Nasi Jamblang Cirebon Kuliner Indonesia Yang Enak Serta Bernilai Sejarah

Nasi Jamblang Cirebon
Nasi Jamblang Cirebon Kuliner Indonesia Yang Enak Serta Bernilai Sejarah

Nasi Jamblang Cirebon Kuliner Indonesia Yang Enak Serta Bernilai Sejarah

Nasi Jamblang Cirebon atau Sega Jamblang merupakan salah satu sajian kuliner khas Cirebon yang cukup popular dan juga memiliki nilai filosofi sejarah. Rasanya yang nikmat dan harganya yang cukup terjangkau membuat nasi jamblang banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat.


Sekadar diketahui, Sega jamblang menjadi satu dari 13 karya budaya di Jawa Barat yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2023.
Di Cirebon sendiri, ada banyak penjual nasi jamblang. Baik yang berupa warung sederhana maupun rumah makan modern. Jadi, bukan hal sulit untuk menemukan penjual nasi jamblang saat berkunjung ke Cirebon

Di langsir dari website Disbudparpora kabupaten Cirebon menjelaskan bahwa pada tahun 1847, kolonial Belanda memberi perintah untuk membangun pabrik gula di daerah Palimanan dan Plumbon, juga pabrik spirtus di daerah Palimanan.

Pembangunan tersebut membutuhkan banyak pekerja hingga warga sekitar Plumbon dan Palimanan pun ikut turun tangan.

Selain warga sekitar, ternyata banyak juga pekerja yang datang dari daerah yang cukup jauh sehingga mereka harus berangkat dari rumah sejak pagi buta.

Para pekerja yang berangkat pagi, tidak sempat sarapan. Sayangnya, di tempat mereka kerja pun tidak disediakan makanan dan tidak pula ada orang berjualan.

Hal tersebut menimbulkan inisiatif dari Ki Antara beserta istrinya Nyi Pulung untuk memberikan sedekah berupa nasi yang dibungkus daun jati kepada pekerja.

asi jamblang dibungkus dengan daun jati bukan tanpa sengaja, tapi memang agar nasi yang dibungkus tidak cepat basi walaupun tidak langsung dimakan.

Daun jati memiliki pori yang dapat mengeluarkan uap panas dari nasi, tidak seperti daun pisang.

Setiap pagi, Nyi Pulung menyediakan nasi-nasi jamblang tersebut untuk para pekerja dan selalu menolak ketika diberikan bayaran.

Para pekerja yang merasa tidak enak karena sadar bahwa semua bahan makanan yang dibagikan Nyi Pulung perlu dibeli dengan uang, mereka kompak untuk memberi Nyi Pulung imbalan atas perbuatannya.

Itulah asal-usul adanya nasi jamblang yang melegenda.

Hingga sekarang, penyajian nasi jamblang masih sama yaitu dengan dibungkus daun jati dan didampingi berbagai macam lauk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *