Angkat bicara KPAI, Menduga Ada Sindikat Pelaku Yang Sengaja Memperjualbelikan Video Asusila

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Divipromedia.com, JAKARTA – Angkat bicara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menduga ada sindikat pelaku yang sengaja memperjualbelikan video asusila, dua kasus viral ibu merekam aksi pencabulan terhadap anak kandungnya.

“Saya sedang koordinasi dengan Polda Metro untuk membongkar kasus tersebut, karena ada relevansi dengan temuan 2.100 tayangan video porno anak-anak yang kemarin diungkap itu dilakukan oleh satu orang dia mengambil gambar-gambar video.

Dia bikin medsos grup yang berbayar hingga perputaran uangnya menjadi signifikan hampir ratusan juta dalam satu tahun,” kata Ketua KPAI Ai Maryati Solihah, Sabtu, (8/6).

Menurut Ai Maryati, harus ada penanganan hukum yang menyeluruh dari kepolisian.

Polisi diharapkan tidak hanya menjerat sosok ibu yang merekam dan mencabuli anaknya.

Sosok pelaku yang menyuruh ibu untuk melakukan aksi bejatnya dengan iming-iming imbalan juga harus diusut.

Lanjut, Ai Maryati, “Kepolisian harus membongkar tuntas dari kasus ini bukan hanya melihat bahkan masyarakat menghujat si ibu ini.

Ada ruang eksploitasi yang bisa saja berpotensi adalah industri pornografi yang sesungguhnya dengan menggunakan orang-orang yang tidak berdaya ini,” Unjarnya.

Dua kasus ibu merekam aksi pencabulan kepada anaknya ini terjadi di Tangerang dan Kabupaten Bekasi.

KPAI melihat ada benang merah dari dua kasus viral tersebut.

Ai mengatakan pelaku dalam dua kasus itu merupakan warga yang berasal dari kalangan ekonomi sulit dan minim menerima edukasi mengenai kekerasan seksual terhadap anak.

“Siklusnya bisa terlihat menyasar orang yang ekonomi lemah dan edukasi tidak ada,” katanya.

Ai juga mengatakan daftar dua kasus viral ini menambah daftar perkara eksploitasi seksual kepada anak yang diterima pengaduannya oleh KPAI dalam tiga tahun terakhir.

“Kalau yang teradu 340 itu dalam tiga tahun terakhir dari 2021 sampai 2023 Desember. Itu per kasusnya korbannya bisa puluhan sampai ratusan.

Jenisnya eksploitasi seksual by jaringan dan non-jaringan, ada pekerja anak di dalamnya dan ada prostitusi online,” tutur Ai. (DM1)